Harmoni di Bali terasa di Bali ketika perayaan Hari Raya Nyepi baru saja berakhir
Info NUNUKAN – Harmoni di Bali dan disusul dengan pelaksanaan Salat Idul Fitri oleh warga Muhammadiyah. Perpaduan dua momentum keagamaan yang berbeda ini menjadi potret nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Pulau Dewata.
Setelah sehari penuh menjalani Nyepi—hari suci umat Hindu yang ditandai dengan keheningan total tanpa aktivitas—kehidupan di Bali perlahan kembali berjalan. Jalanan yang sebelumnya sepi mulai dipenuhi aktivitas warga. Namun, suasana tetap terasa tenang dan tertib ketika umat Muslim bersiap menyambut Idul Fitri.
Di sejumlah titik, warga Muhammadiyah menggelar Salat Id dengan khidmat.
Lapangan dan halaman masjid yang digunakan sebagai lokasi ibadah dipenuhi jamaah sejak pagi hari. Mereka datang dengan pakaian terbaik, membawa semangat kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Momen ini menjadi istimewa karena berlangsung tepat setelah Nyepi. Banyak pihak menilai, peristiwa ini mencerminkan tingginya tingkat toleransi di Bali, di mana umat Hindu dan Muslim dapat menjalankan ibadah masing-masing tanpa gangguan, bahkan saling menghormati.
Baca Juga: Ini Jalur Alternatif Antisipasi Lonjakan Mudik di Cianjur Puncak 2 Hanya untuk Motor
Selama Nyepi, umat Muslim yang berada di Bali juga ikut menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku, seperti membatasi aktivitas di luar rumah dan menjaga ketenangan. Sikap saling menghormati ini kemudian dibalas dengan dukungan dari masyarakat Hindu saat umat Muslim melaksanakan Salat Id.
Aparat keamanan dan pecalang (petugas adat Bali) turut berperan dalam menjaga ketertiban selama dua momentum penting ini berlangsung. Mereka memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar, aman, dan tetap menghormati nilai-nilai yang dianut masing-masing komunitas.
Khotbah Idul Fitri yang disampaikan di berbagai lokasi juga menyinggung pentingnya menjaga persatuan dan toleransi.
Jamaah diingatkan bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
Selain ibadah, suasana kebersamaan juga terlihat dalam interaksi sehari-hari. Warga saling menyapa, berbagi makanan, dan menunjukkan sikap saling menghargai. Bahkan, tidak sedikit masyarakat non-Muslim yang ikut mengucapkan selamat Idul Fitri kepada tetangganya yang merayakan.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bagaimana kehidupan multikultural dapat berjalan dengan damai. Di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat Bali menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berakhirnya Nyepi dan berlangsungnya Salat Id oleh warga Muhammadiyah, Bali kembali menegaskan dirinya sebagai simbol harmoni. Momen ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan dan saling menghormati adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.















